Pemandianumum yang dibangun dengan baik terlibat sangat banyak disetiap tempat di kota itu. Pasar yang mempunyai 20.000 toko luar biasa besarnya dan dipenuhi berbagai produk dari seluruh dunia. Keadaan ini menunjukkan bahwa kemakmuran yang begitu berlimpah dan kemajuan ekonomi yang begitu hebat pada masa Fatimiyah di Mesir. Kotaitu dibangun lebih dari 3.400 tahun yang lalu pada masa pemerintahan mewah Amenhotep III -- salah satu firaun paling kuat di Mesir, kata Zahi Hawass, arkeolog Mesir yang mengawasi penggalian. Tim penggali mulai mencari kuil kamar mayat dekat Luxor pada September, tetapi dalam beberapa pekan menemukan beberapa formasi batu bata lumpur di KotaAlexandria adalah sebuah kota pelabuhan utama di Mesir dan menjadi kota terbesar kedua setelah Kairo. Sejarah Alexandria Alexandria didirikan sekitar tahun 331 SM oleh Aleksander Agung, raja dari Makedonia dan pemimpin Yunani Liga Khorintos, selama penaklukan dari Kekaisaran Akhemeniyah. Kota emas yang hilang' itu diketahui dengan nama Aten, diduga peninggalan masa kekuasaan Amenhotep III, salah satu firaun paling kuat di Mesir. Setelahkematian Alexander Agung pada 323 SM, Ptolemy mulai memerintah Mesir dari Alexandria, menggantikan ibu kota lama, Memphis. Kota ini tumbuh menjadi yang terbesar di dunia, sehingga menarik para sarjana, ilmuwan, filsuf, matematikawan, seniman, dan sejarawan. 10Fakta Tentang Ibukota Mesir. Kairo adalah ibu kota negara Afrika utara Mesir . Ini adalah salah satu kota terbesar di dunia dan terbesar di Afrika. Kairo dikenal sebagai kota yang sangat padat penduduknya serta menjadi pusat budaya dan politik Mesir. Itu juga terletak di dekat beberapa sisa-sisa Mesir Kuno yang paling terkenal seperti VIVA- Tim arkeolog dari Mesir telah menemukan kota kuno terbesar di Mesir pada hari Kamis (8/4/21), dilansir oleh Live Science.Kota yang hilang, yang dikenal sebagai aten terkubur gurun pasir selama 3400 tahun. Seorang ahli arkeologi terkenal di Mesir, Zahi Hawass, mengatakan kota emas ini ditemukan di dekat Luxor, rumah dari Lembah Para Raja yang legendaris. DTfV. Sejak abad ketujuh, daulah Islam tampil sebagai kekuatan baru yang bermula di Semenanjung Arab. Pada masa itu, Nabi Muhammad SAW kian mengukuhkan syiar tauhid. Beliau juga mengirimkan sejumlah utusan ke berbagai penjuru, baik Arab maupun non-Arab, untuk mengajak para pemimpinnya agar memeluk agama ini. Salah satu negeri yang menerima surat Rasulullah SAW ialah Mesir. Di Iskandariah, pusat Mesir kala itu, Raja Muqauqis menerima duta Nabi SAW dengan penuh kehormatan. Melalui surat balasannya, penguasa Mesir itu menyampaikan bahwa ia sungguh beriman akan datangnya utusan Allah setelah Nabi Isa AS, tetapi kedatangannya di Suriah, bukan Arab. Walaupun enggan memeluk Islam, Muqauqis mengirimkan banyak hadiah ke Madinah. Iskandariah atau Alexandria, seperti tampak pada namanya, adalah kota yang berdiri sejak zaman raja Makedonia Iskandar Agung Alexander the Great. Raja yang hidup pada abad keempat Masehi itu dikenang sebagai seorang penakluk yang sukses. Wilayah kekuasaannya membentang dari Balkan, Yunani, Asia Barat, Asia Tengah, hingga India. Walaupun enggan memeluk Islam, Muqauqis mengirimkan banyak hadiah ke Madinah. Mesir baru menjadi bagian dari daulah Islam sejak tahun 642 M. Empat tahun kemudian, Iskandariah dikuasai seluruhnya oleh Muslimin. Karena enggan berada di bawah administrasi pemerintahan Muslim, banyak orang Yunani setempat yang berpindah ke wilayah Asia Barat yang masih dikendalikan Romawi Timur Byzantium. Beberapa mitos menyebut, umat Islam kala menaklukkan Mesir melakukan serangkaian perbuatan barbar, semisal membakar perpustakaan. Padahal, cerita tentang Amr bin al-Ash yang dikatakan memerintahkan pemusnahan atas Perpustakaan Iskandariah tidak dapat dipertanggungjawabkan. Kabar burung itu lebih sebagai propaganda orientalis. Yang terjadi, orang-orang Arab justru mengakui pencapaian peradaban yang terdapat di Iskandariah dan Mesir pada umumnya. Sebagai contoh, sistem tata kota, istana-istana, pemandian umum, dan kanal-kanal di sana yang telah beroperasi sejak zaman Yunani Kuno, itu semua tetap dipelihara. Tata kota Iskandariah pada masa itu memang cukup mutakhir. Jalan-jalan di kota ini bila dilihat dari ketinggian tampak seperti garis-garis pada papan catur. Pada musim dingin, air hujan yang mengguyur Iskandariah mengalir dengan lancar menuju laut. Adapun pada musim panas, saluran-saluran menyuplai kebutuhan air Sungai Nil kepada seluruh penduduk. Tata kota Iskandariah pada masa itu memang cukup mutakhir. Jalan-jalan di kota ini bila dilihat dari ketinggian tampak seperti garis-garis pada papan catur. Hal lainnya yang diakui para penakluk Arab adalah sistem pertahanan. Iskandariah dikelilingi benteng-benteng pelindung yang kokoh. Pada awal masuknya Islam ke Mesir, keadaan tembok itu dibiarkan sebagaimana adanya. Pada era Dinasti Abbasiyah, Khalifah al-Mutawakkil kemudian membangun benteng-benteng baru di dekat yang sudah ada sejak zaman Hellenis-Romawi. Penguasa-penguasa Muslim berikutnya, seperti Ahmad bin Tulun, Shalahuddin al-Ayyubi, Sultan Baybars, atau Sultan Al-Ashraf Sha'ban dari Dinasti Bahri, juga memperkuat Iskandariah dengan cara serupa. Aktivitas pelabuhan menjadi denyut kehidupan Iskandariah sejak kota ini terbentuk. Pelbagai fasilitas dibangun untuk mendukungnya. Salah satunya adalah Mercusuar Iskandariah Pharos of Alexandria. Dibangun pada abad ketiga sebelum Masehi SM, inilah yang disebut-sebut sebagai salah satu keajaiban dunia kuno. Seorang pengelana, al-Balawi al-Andalusi, mengunjungi Pulau Pharos tempat menara itu berada pada 1166 M. Deskripsinya terhadap bangunan tersebut cukup terperinci. Tingginya sekitar 110 meter pada bagian puncak, sedangkan bagian dasarnya 30 meter. Gempa bumi sempat mengguncang Iskandariah pada 956, 1303, dan 1323. Mercusuar itu pun mengalami kerusakan yang signifikan. Sultan Qaitbay pada 1447 lantas mengubahnya menjadi benteng pertahanan dan menara yang lebih mutakhir. Kota kosmopolitan Pada abad ke-13, populasi Iskandariah tercatat sebanyak 65 ribu jiwa. Wabah penyakit pada 1347-1350 sempat mengurangi kira-kira 10 persen dari jumlah penduduk setempat. Geliat komersial juga turut menurun drastis karenanya. Namun, sesudah itu mereka bangkit kembali. Menjelang akhir abad ke-14, kota ini semakin makmur dan menjadi salah satu wilayah terpenting di dunia Islam. Beberapa kali Iskandariah menikmati kedaulatan sebagai sebuah negara-kota yang mandiri dari dinasti-dinasti besar. Walaupun secara politik diatur para penguasa Muslim, umat agama-agama lain juga ikut menopang kemajuan kota tersebut. Jalannya pemerintahan sipil diisi peran tokoh-tokoh Kristen Koptik dan Yahudi. Sebagai gambaran, Khalifah Yazid I dari Dinasti Muawiyah pernah menunjuk seorang Nasrani yang bernama Theodosius sebagai gubernur Iskandariah. Dalam hal perdagangan, Iskandariah tidak hanya memiliki bandar yang selalu ramai, tetapi juga produsen tekstil. Industri tenun dikelola di pusat-pusat kerajinan kota ini. Yang terbesar di antaranya bernama Darul Tiraz. Tempat itu menghasilkan sutra bermutu tinggi yang dibeli sebagai hadiah untuk para raja atau kain penutup Ka’bah. Selain itu, para paus di Roma juga menggemari produk tekstil dari Iskandariah. Tempat itu menghasilkan sutra bermutu tinggi yang dibeli sebagai hadiah untuk para raja atau kain penutup Ka’bah. Selain itu, para paus di Roma juga menggemari produk tekstil dari Iskandariah. Sejak zaman Khalifah Umar bin Khaththab hingga pecahnya Perang Salib, dinasti-dinasti Islam mengembangkan kebudayaan yang inklusif di Iskandariah. Josef W Meri dalam Medieval Islamic Civilization memaparkan beberapa keistimewaan kota ini. Sepanjang abad pertengahan, banyak sarjana Muslim dan sufi terkenal yang berasal dari Iskandariah. Misalnya, pakar hadis Abu Tahir al-Silafi wafat 1180, sufi Ibnu Atha'illah as-Sakandari wafat 1309, dan al-Busiri penulis Kasidah Burdah yang berisi puji-pujian kepada Rasulullah SAW. Sejak menaklukkan kota ini, para cendekiawan Muslim mulai mengenal cakrawala pengetahuan yang dirintis bangsa Yunani Kuno. Berabad-abad sebelum kedatangan Islam, Iskandariah merupakan pusat studi alkimia alchemy di dunia. Bidang tersebut mulanya bersifat protosains lantaran menggabungkan pelbagai kajian; mulai dari kimia, fisika, astrologi, kedokteran, hingga mistisisme. Ada dua tujuan yang hendak dicapai seorang alkemis klasik. Pertama, keberadaan eliksir philosopher’stone yang diyakini mampu mengubah zat apa pun menjadi emas. Kedua, komposisi ramuan universal panacea yang dipercaya dapat menyembuhkan segala macam penyakit. Meskipun dua hal itu sampai saat ini cenderung menjadi mitos, alkimia terbukti merintis cikal-bakal studi kimia modern. Kitab al-Fihris Katalog’ merangkum bibliografi kesusastraan Arab dan teks-teks yang dialihbahasakan dari budaya-budaya luar. Karya Ibnu al-Nadhim, penulis Muslim abad ke-10, itu menyebutkan bahwa peradaban Islam mulai menggeluti studi alkemi sejak permulaan abad kedelapan. Pada waktu itu, Khalid bin Yazid berhasrat menemukan eliksir universal. Untuk itu, bangsawan Umayyah tersebut membentuk suatu tim yang terdiri atas para filsuf dan ilmuwan dari Iskandariah. Mereka bertugas menerjemahkan teks-teks klasik dari Yunani Kuno yang tersedia di Suriah dan pelbagai perpustakaan di wilayah Islam. Kontribusi terpenting umat Islam atas studi kimia tidak lepas dari pengaruh Jabir bin Hayyan wafat 815. Mengutip Husain Heriyanto dalam Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam, ilmuwan yang lahir di Khurasan itu merintis dasar-dasar metode riset kimia secara ilmiah dan eksperimental. Sebelum eranya, para alkemis kuno dari Iskandariah, India, dan Cina pada umumnya mengandalkan cara-cara spekulatif tanpa pembuktian ilmiah. Sosok yang dikenal Barat sebagai Geber itu justru menegaskan, eksperimen adalah aspek terpenting dari kimia. Di Iskandariah pula, peradaban Islam mulai berkenalan dengan ilmu pengobatan dan filsafat pemikiran yang dikembangkan bangsa Yunani Kuno. Karya para pemikir dari masa silam, seperti Hippocrates, Plato, Aristoteles, Sokrates, Pytagoras, Archimedes, dan Galen, diterjemahkan oleh para pakar di perpustakaan yang ditaja para sultan Muslim. Iskandariah menjadi salah satu sentra perkembangan sains dan literasi di samping kota-kota lainnya, semisal Jundisyapur Persia dan Harran Suriah. Pada abad ketujuh, ilmuwan Abdul Malik al-Kinanu dari Kuffah Irak belajar di Perpustakaan Iskandariah. Setelah itu, dia bekerja pada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Atas sarannya, penguasa Bani Umayyah itu memindahkan pusat kajian kedokteran dari Iskandariah ke Antiokhia perbatasan selatan Turki. Secara garis besar, ilmu pengobatan Islam pada zaman keemasan mengembangkan lebih lanjut pencapaian-pencapaian dari berbagai peradaban yang datang sebelumnya, terutama Yunani Kuno, Persia, dan India. Geliat perkembangan Iskandariah sebagai kota riset dan perniagaan mendapatkan tantangan besar sejak serbuan pasukan Salib menjelang akhir abad ke-14. Meskipun berlangsung hanya beberapa hari, dampak yang ditimbulkannya cukup signifikan. Ratusan orang tewas, sedangkan tidak kurang dari lima ribu penduduk setempat dipaksa menjadi budak. Serangan yang terkesan mendadak itu tidak diiringi pendirian rezim baru. Raja Peter yang memimpin balatentara Salib hanya pergi meninggalkan Iskandariah yang hancur lantaran ulahnya. Kota Kairo, Mesir. Dinasti Mamluk berkuasa di Mesir cukup lama, yakni sekitar 267 tahun 1250-1517. JAKARTA — Kota seribu menara. Itulah julukan yang disandang Kairo - salah satu kota penting dalam sejarah peradaban Islam. Pada abad pertengahan, ibukota Mesir yang berada di benua Afrika itu memainkan peranan yang hampir sama pentingnya dengan Baghdad di Persia serta Cordoba di Eropa. Kairo yang terletak di delta Sungai Nil telah didiami manusia Mesir Kuno sejak tahun 3500 SM. Mesir Kuno sempat mencapai kemakmuran di bawah penguasa Zoser, Khufu, Khafre, Menaure, Unas dan lainnya. Di masa itu, ibukota Mesir Kuno itu sudah menjadi salah satu kota yang berpengaruh di dunia. Sejak 30 SM, Mesir dikuasai bangsa Romawi. Kekuasaan Romawi di Mesir akhirnya tumbang ketika Islam menjejakkan pengaruhnya pada tahun 641 M. Adalah pasukan di bawah komando jenderal perang Muslim, Amar bin Al-Ash yang pertama kali menancapkan pengaruh Islam di Mesir. Saat itu, Amar bin Al-Ash justru menjadikan Fustat - kini bagian kota Kairo - sebagai pusat pemerintahannya. Di Fustat itulah, bangunan masjid pertama kali berdiri di daratan Afrika. Fustat tercatat mengalami pasang-surut sebagai sebuah kota utama di Mesir selama 500 tahun. Penjelajah dari Persia, Nasir-i-Khusron mencatat kemajuan yang dicapai Fustat. Ia melihat betapa eksotik dan indahnya barang-barang di pasar Fustat, seperti tembikar warna-warni, kristal dan begitu melimpahnya buah-buahan dan bunga, sekalipun di musim dingin. Dari tahun 975 sampai 1075 M Fustat menjadi pusat produksi keramik dan karya seni Islami - sekaligus salah satu kota terkaya di dunia. Ketika Dinasti Umayyah digulingkan Dinasti Abbasiyah pada 750 M, pusat pemerintahan Islam di Mesir dipindahkan ke Al-Askar - basis pendukung Abbasiyah. Kota itu bertahan menjadi ibukota pemerintahan hingga tahun 868 M. Sekitar 1168 M, Fustat dibumihanguskan agar tak dikuasai tentara Perang Salib. Berdirinya Kairo sebagai ibukota dan pusat pemerintahan diawali gerakan penumpasan golongan Syiah yang dilancarkan penguasa Abbasiyah di Baghdad. Kongsi yang dibangun golongan Syiah dengan Bani Abbas untuk menjatuhkan Bani Umayyah akhirnya pecah. Penguasa Abbasiyah mencoba meredam perlawanan golongan Syiah Ismailiyah di bawah pimpinan Ubaidillah Al-Mahdi. Setelah sempat ditahan, Ubadilah akhirnya dibaiat menjadi khalifah bergelar Al-Mahdi Amir Al-Mu'minin 909 M. Pengganti Khalifah Ubaidilah Al-Mahdi, Muizz Lidinillah mulai mengalihkan perhatiannya ke menunjuk Panglima Jauhar Al-Katib As-Siqili untuk menaklukan Mesir. BACA JUGA Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Klik di Sini - Kota Fayoum di Mesir jangan sampai terlewatkan apabila Anda berkunjung ke negeri yang terkenal dengan piramida-nya itu. Sebab kota Fayoum memiliki banyak sekali menyimpan penemuan-penemuan bersejarah, selain memiliki tanah yang subur. Baca juga Apa Itu Feng Shui? Ini Sejarah Feng Shui dan Penerapannya di RumahTentang Fayoum Fayoum merupakan kota yang terletak di bagian tengah Mesir, lokasinya berjarak sekitar 100 kilometer barat daya Kairo, ibu kota Mesir. Perjalanan dari Kairo ke Fayoum bisa ditempuh dengan moda transportasi darat selama kurang lebih satu setengah jam. Tangkapan layar peta Kota Fayoum, Mesir Penduduk Fafoum berjumlah sekitar jiwa menurut sensus 2005. Kota ini adalah kota paling subur di Mesir. Nama "Al-Fayoum" berasal dari bahasa Koptik, yaitu bahasa Mesir kuno yang sudah bercampur dengan bahasa Yunani, yaitu Phiom atau Pa-youm yang bermakna danau atau laut. Wilayah yang subur Bagi kebanyakan orang, kawasan Timur Tengah kerap digambarkan sebagai wilayah tandus. Pemahaman itu diamini dengan warna coklat dalam peta yang menghiasi kawasan Timur Tengah. Warna itu memberikan gambaran bahwa daerah tersebut mayoritas dipenuhi padang pasir, tidak terkecuali peta untuk Mesir. Namun, di balik pemahaman itu, ada satu wilayah di Mesir yang dikenal memiliki tanah sangat subur, itulah Kota Fayoum. Layaknya di Indonesia, pemandangan yang tersaji di Fayoum adalah hamparan pertanian hijau serta terdiri dari danau dan kanal. Tak heran apabila kota ini dianggap sebagai wilayah paling subur di Mesir. Baca juga Baghdad, Kota Seribu Satu Malam dan Pusat Peradaban Dunia di Masa Lalu Sejarah kota Fayoum Madinah el-Fayoum atau Kota Fayoum merupakan wilayah Mesir kuno yang terkenal akan kesuburannya serta menjadi habitat tumbuhan dan hewan. Terletak 100 kilometer dari Kairo, Fayoum pernah menjadi lembah gurun gersang, mengutip dari World History. Setelah anak Sungai Nil mengalirinya, wilayah itu menjadi oasis yang sangat subur, sehingga menarik pertumbuhan tanaman, satwa liar, kemudian disusul manusia pada 7200 SM. Anak Sungai Nil ini diberi nama Bahr Yusuf untuk menghormati Nabi Yusuf AS dan masih ada sampai sekarang sebagai sebuah kanal. Nama Fayoum berasal dari kata Mesir kuno "Pa-yuum" atau "Pa-yom" yang berarti danau atau laut yang mengacu pada Danau Moeris. Danau itu dibangun oleh Amenemhat I 1991-1962 SM dari Dinasti ke-12. Kerajaan Pertengahan Mesir Kuno dianggap sebagai "zaman keemasan", ketika budaya menghasilkan beberapa karya terbaiknya dan Fayoum mendapat manfaat dari pemerintahan Dinasti ke-12 yang juga Sejarah Cappadocia, Saksi Bisu Kehidupan Era Byzantium Populasi Faiyum mulai menurun pada abad ke-2 M dan wabah mematikan menghancurkan populasi lebih jauh. Pada awal abad ke-3 M populasi telah berkurang menjadi di bawah 10 persen dari penghuni abad sebelumnya. Saat itu, lembah yang subur digunakan secara berlebihan dan sebagian besar tanah tekah dikembangkan, sehingga memaksa satwa liar pergi. Tanaman papirus yang dulunya sangat berlimpah, telah dipanen hingga hampir punah seperti halnya bunga dan fauna lain yang pernah menarik orang-orang ke wilayah itu. Setalah bangsa Arab menguasai wilayah Fayoum pada abad ke-7, kota itu menjadi pusat pertanian dan perdagangan yang makmur. Saat ini, daerah tersebut kembali menjadi daerah pertanian yang kaya karena upaya pelestarian ekologi dan perbaikan dalam peternakan. Sereal, beras, kacang-kacangan, anggur, zaitun, buah ara, kurma, madu, kapas, dan tebu adalah komoditi unggulan Kota Fayoum. Baca juga Sejarah Dubai, dari Daerah Nelayan Sederhana Menjadi Kota Megah Wisata alam Fayoum Terdiri dari banyak danau dan kanal, wilayah yang luas ini merupakan tempat wisata akhir pekan atau sehari yang ideal bagi mereka yang ingin melarikan diri dari hiruk pikuk kota. Wadi El Rayan, taman nasional yang dilindungi dan membentang hampir 700 mil persegi, adalah salah satu dari banyak daya tarik Fayoum. Ini terdiri dari danau buatan manusia atas dan bawah yang dianggap sebagai air terjun terbesar Mesir, mengutip dari CNN. Selain itu, Fayoum juga memiliki Danau Ajaib, sebuah danau dengan air yang berubah warna, tergantung pada waktu dan jumlah paparan sinar matahari. Melihat ke bawah ke danau dari atas bukit pasir adalah suatu tontonan yang surealis, dengan air yang tenang dan memantulkan langit. Baca juga Sejarah Istanbul, Byzantium, dan Konstantinopel Kota di Dua Benua Salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO juga terdapat di Fayoum, yaitu Wadi Al-Hitan, sebuah museum terbuka yang menawarkan penggambaran evolusi kehidupan membingungkan. Kerangka ratusan paus raksasa, hiu, dan fosil tak terbatas memenuhi lembah gurun atau dikenal sebagai The Valley of Whales, melukiskan gambaran yang jelas tentang skala penduduknya yang menakjubkan sekitar 40 juta tahun yang lalu. Fayoum juga memiliki danau yang dianggap paling kuno di dunia, yaitu Danau Moeris atau kini disebut Danau Qorun. Terhubung ke Sungai Nil melalui Bahr Yussef, lahan basah yang dilindungi ini adalah sebagian kecil dari sisa-sisa Danau Moeris. Meski tak cocok untuk berenang, danau ini menjadi tujuan legendaris bagi para pengamat burung. Sebab, ia menyimpan lebih dari 88 spesies burung dan tempat bagi spesias yang terancam punah. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Berikut adalah daftar kota di Mesir Akhmim Al `Alamayn El Alamein Al `Arish Al Fayyum Aswan Asyut Banha Bani Suwayf Bur Safaga Bur Said Port Said Kairo Kairo Ad Dakhilah Damanhur Damietta Dandarah Dosouk Al Ghardaqah Hurghada Hamrah Dawm Hala'ib Imbabah Iskandariyah Al Isma`iliyah Ismailia Al Jizah Giza Kafr ad Dawwar Kawm Umbu Kom Ombo Al Kharijah Luxor Al Mahallah al Kubra Al Mansurah Marsa Matruh Al Minya Naj` Hammadi Nag Hammadi An Nubariyah Qutar Rosetta Siwah kutha Sharm ash Shaykh Shibin al Kawm Shibin Al-Qanater Shubra al Khaymah Suez Taba Tanta Az Zaqaziq Zagazig Nama kota di Mesir – Mesir adalah negara yang berada di benua Afrika. Letak negara Mesir berada di Afrika Utara dan termasuk kawasan negara negara Arab di Timur Tengah. Mesir terkenal dengan peradaban kuno dan beberapa monumen kuno termegah di dunia seperti Piramid Giza dan Kuil juga diakui secara luas sebagai pusat budaya dan politikal utama di wilayah Arab dan Timur Tengah. Ibukota Mesir ada di kota Kairo. Letak geografis Mesir berada di antara wilayah benua Asia dan benua Afrika. Dengan luas kilometer persegi, Mesir adalah negara ke-30 terbesar di iklimnya yang ekstrem dan gersang, sebagian besar populasi terkonsentrasi di sepanjang Lembah Nil yang sempit dan Delta sungai Nil. Sekitar 99 % penduduk Mesir menempati kawasan lembah sungai Nil dan kawasan delta sungai di dekat Laut administratif, wilayah Mesir dibagi menjadi 27 pemerintahan. Kota-kota penting di Mesir adalah kota Alexandria, Aswan, Asyut, Kairo, El-Mahalla el-Kubra, Giza, Hurghada, Luxor, Kom Ombo, Port Safaga, Port Said, Sharm El Sheikh, Suez, Zagazig dan ini merupakan daftar nama nama kota di Mesir saat ini. List nama kota di Mesir akan ditampilkan secara lengkap beserta asal wilayahnya dan populasi jumlah penduduknya di kota kota besar tersebut berdasarkan hasil sensus terbaru.baca juga nama kota di QatarNoKotaP El SaidPort Mahalla El SuefBeni El itulah info list daftar nama kota besar yang ada di Mesir dan populasi penduduknya lengkap update terbaru. Mesir memang terkenal sebagai negara di benua Afrika yang banyak dikunjungi. Banyak kota besejarah dan terkenal yang ada di Mesir, misalnya Cairo, Giza, Alexandria dan Aswan. Sekian info dunia kali ini.

kota kota di mesir